Selamat datang di website Rimbalinux.com. Setelah sekian lama vakum, kami akan mencoba hadir kembali dengan materi-materi terbaru seputar Linux dan Open Source Movement.
Untuk hal-hal yang bersifat layanan komersial, silakan hubungi kami lewat form Kontak Kami
(kredit foto: linuxwallpaper.org)
Menurut laporan OSNews, Nvidia akan tetap mempertahankan posisinya untuk menutup kode program untuk driver-drivernya. Berbeda dengan bebrapa vendor yang membuka kode program bagi drivernya untuk digunakan di Linux, Nvidia tetap menutupnya dan memberikan driver dalam format binary.
3 Juni lalu, Google merilis Gadget untuk Linux, sebagai pelengkap Google Desktop for Linux. Tidak seperti Google Desktop, Gadget ditawarkan dengan lisensi GPL. Rilis ini menumbuhkan harapan agar Google Desktop dapat lebih bermanfaat ke depan, juga harapan Google lebih mengerti keinginan komunitas.
Jika Anda membutuhkan software untuk ploting, pengganti matlab di lingkungan Linux, Anda bisa coba Matplotlib. Dikembangkan dengan bahasa Python, matplotlib dapat digunakan untuk membuat plot, power spectra, bar chart, error chart, scatter plots, dan diagram lainnya hanya dengan beberapa kode.
Kandidat rilis (RC/Release Candidate) Firefox 3, bikin masalah. Sebagaimana dirilis, bahwa Firefox 3 menggunakan Sqlite sebagai penyimpan data pengguna. Karena menyimpan history, data browsing dan data-data lainnya, firefox akan mengupdate database ini dalam jumlah besar dan waktu yang relatif singkat. Ini melibatkan panggilan fsync() untuk memastikan bahwa data sudah disimpan dalam database.
Dalam acara IGOS Summit II yang lalu, digagas terbentuknya Aliansi Open Source Indonesia (AOSI). Aliansi yang digagas oleh Harry Sufehmi dari Rimbalinux ini, ternyata mendapat sambutan yang cukup positif dari pelaku bisnis IT. Saat ini, aliansi yang juga didukung penuh oleh Depkominfo, telah memilih 4 formatur yang akan mempersiapkan pembentukan resmi AOSI. Keempat formatur tersebut adalah Harry Sufehmi, Rusmanto, Teddy Sukardi dan Sumitro Rustam. Diharapkan dengan pembentukan AOSI ini, teknologi berbasis Open Source menjadi memiliki legitimasi yang kuat untuk diterapkan di lingkungan bisnis. (kredit foto: Kompas.com/Tri Wahono)
